Saturday, November 28, 2009

#CiNtA KeRaNa ALLAH#


Tidaklah dua orang saling mencintai kerana Allah, melainkan orang yang paling dicintai Allah, diantara keduanya ialah orang yang paling besar cintanya kepada saudaranya." HR. Ibnu Hibban dan Al-Hakim Rasa cinta adalah fitrah manusia. Kerananya, percintaan adalahrentangan waktu kehidupan manusia yang akan mereka lalui dengan keindahan dan haru biru. Cinta yang tulus, insyaAllah akanmenyelamatkan manusia dari api neraka yang maha dahsyat panasnya. Cinta tulus, terbesar dan hakiki adalah cinta kepada Allah. Bukharidan Muslim meriwayatkan sebuah sabda Rasulullah Saw. melalui Anas ra., "Ada tiga perkara yang barangsiapa dalam dirinya terdapat ketiga perkara itu, dia pasti merasakan manisnya iman, iaitu Allah dan RasulNya lebih dicintainya daripada yang lain; mencintai seseorang tiada lain hanya kerana Allah; dan tidak ingin kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan Allah sebagaimana dia tidak ingin kalau dicampakkan ke dalam api." Sesungguhnya persaudaraan kita merupakan buah dari ketinggian akhlak, dan tafarruq (perselisihan) kita merupakan akibat dari rendahnya akhlak. Akhlak yang bagus membuahkan rasa saling cinta, saling sayang, dan saling memberikan manfaat. Kerana itu, cinta melahirkan ukhuwah. Ukhuwah yang telah digambarkan secara mengharukan oleh Bilal, Amar dan Zaid, atau Umar, Ali dan Utsman, yang bersanding dan bercinta kerana Allah. Kasih sayang diantara mereka merupakan gambaran janin ukhuwah yang dikandung dalam perut iman, dan terlahir dari ibu yang bernama iman. Ukhuwah bererti bersatunya hati-hati yang ruhnya terikat dengan ikatan akidah. Kerananya, persaudaraan adalah bentuk keimanan yang terikat dengan akidah yang amat kuat. Sementara perpecahannya adalah gambaran kekufuran, yang menempatkan keimanan dan kasih sayang di tempat sampah. Oleh kerana itu, manusia yang benar fikrahnya adalah manusia yang melihat saudaranya lebih utama dibanding dirinya sendiri. Jika perkara ini terjadi, ukhuwah akan terasa sangat indah, nikmat, dan manis. Persaudaraan dan saling mencintai kerana Allah adalah salah satu ibadah yang paling utama dalam agama kita. Siapapun yang berupayamewujudkannya, tiada perkara lain baginya kecuali syurga yang maha indah. Rasulullah Saw bersabda, "Barangsiapa bersaudara dengan seseorang kerana Allah, maka Allah mengangkatnya satu darjat di syurga, yang tidak didapatnya dengan sesuatu amalan lainnya". Ibnu Jarir pun meriwayatkan sabda Rasulullah Saw. dari Ibnu 'Abbas ra., ia berkata, "Barangsiapa mencintai seseorang kerana Allah, membenci seseorang kerana Allah, membela seseorang kerana Kecintaan Sesama Saudara Islam Kerana ALLAH Allah, dan memusuhi seseorang kerana Allah, maka sesungguhnya kecintaan dan pertolongan dari Allah boleh diperoleh dengan perkara Seorang hamba tidak akan menemukan nikmatnya iman, sekalipun banyak sholat dan shaum, sehingga dia bersikap demikian. Persahabatan diantara manusia pada umumnya didasarkan atas kepentingan dunia, namun perkara itu tidak berguna sedikitpun bagi mereka." Cinta seorang Mukmin adalah kekuatan. Ia bagaikan perekat yang mengikat batu bata individu Muslim dalam sebuah bangunan yang kukuh dan tidak mudah roboh. Allah Swt. Berfirman; " Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara." (Q.S Al-Hujurat : 10) Sementara itu, Rasulullah Saw bersabda, "Mukmin yang satu terhadap Mukmin yang lain itu bagaikan bangunan yang mengikat antara sebagian dengan sebagian yang lainnya." HR. Muttafaqun 'Alaih Persaudaraan Islam bukanlah suatu permasalahan sampingan dalam Islam, tetapi ia menjadi salah satu prinsip dasar yang menyertai syahadah (persaksian) terhadap keesaan Allah dan kesaksian terhadap kerasulan Muhammad Saw. Persaudaraan merupakan buah dan konsekuensi keimanan yang amat sangat indah. Kerana itu, kita harus sama-sama yakin bahawa keindahanNya qadim. KeagunganNya tinggi. Kekuasaan dan penguasaanNya Maha Dahsyat. KeindahanNya berpadu dengan kemuliaan. KeagunganNya berpadu dengan keluhuran. KebesaranNya tidak pernah berakhir. KeindahanNya pesona hati. KeagunganNya meningkatkan cinta. Sungguh, tiada cinta yang hakiki kecuali cintaNya kepada kita sebagai makhlukNya, dan cinta kita kepadaNya. Adakah kita merasakan semuanya? Wallahualam.

#30 PeRkArA MeLeMbuTkAn HaTi#


1)Takut akan datangnya maut secara tiba-tiba sebelum kita sempat bertaubat.

2) Takut tidak menunaikan hak-hak Allah secara sempurna. Sesungguhnya hak-hak Allah itu pasti diminta pertanggungjawabannya.


3) Takut tergelincir dari jalan yang lurus, dan berjalan di atas jalan kemaksiatan dan jalan syaitan.


4) Takut memandang remeh atas banyaknya nikmat Allah pada diri kita.


5) Takut akan balasan siksa yang segera di dunia, karena maksiat yang kita lakukan.


6) Takut mengakhiri hidup dengan su’ul khatimah.


7) Takut menghadapi sakaratul maut dan sakitnya sakaratul maut.


8) Takut menghadapi pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di dalam
kubur.

9) Takut akan azab dan prahara di alam kubur.


10) Takut menghadapi pertanyaan hari kiamat atas dosa besar dan dosa kecil yang kita lakukan.


11) Takut melalui titian yang tajam. Sesungguhnya titian itu lebih halus daripada rambut dan lebih tajam dari pedang.


12) Takut dijauhkan dari memandang wajah Allah.


13) Perlu mengetahui tentang dosa dan aib kita.


14) Ma’rifah kita terhadap nikmat Allah yang kita rasakan siang dan malam sedang kita tidak bersyukur.


15) Takut tidak diterima amalan-amalan dan ucapan-ucapan kita.


16) Takut bahwa Allah tidak akan menolong dan membiarkan kita sendiri.


17) Kekhuatiran kita menjadi orang yang tersingkap aibnya pada hari kematian dan pada hari timbangan ditegakkan.


18) Hendaknya kita mengembalikan urusan diri kita, anak-anak, keluarga, suami dan harta kepada Allah SWT. Dan jangan kita bersandar dalam memperbaiki urusan ini kecuali pada Allah.


19) Sembunyikanlah amal-amal kita dari riya’ ke dalam hati, karana terkadang riya’ itu memasuki hati kita, sedang kita tidak merasakannya. Hasan Al Basri rahimahullah pernah berkata kepada dirinya sendiri. “Berbicaralah engkau wahai diri. Dengan ucapan orang soleh, yang qanaah lagi ahli ibadah. Dan engkau melaksanakan amal orang fasik dan riya’. Demi Allah, ini bukan sifat orang mukhlis”.


20) Jika kita ingin sampai pada darjat ikhlas maka hendaknya akhlak kita seperti akhlak seorang bayi yang tidak peduli orang yang memujinya atau membencinya.


21) Hendaknya kita memiliki sifat cemburu ketika larangan-larangan Allah diremehkan.


22) Ketahuilah bahwa amal sholeh dengan sedikit dosa jauh lebih disukai Allah daripada amal soleh yang banyak tetapi dengan dosa yang banyak pula.


23) Ingatlah setiap kita sakit bahwa kita telah istirahat dari dunia dan akan menuju akhirat dan akan menemui Allah dengan amalan yang buruk.


24) Hendaknya ketakutan pada Allah menjadi jalan kita menuju Allah selama kita sehat.


25) Setiap kita mendengar kematian seseorang maka perbanyaklah mengambil pelajaran dan nasihat. Dan jika kita menyaksikan jenazah maka khayalkanlah bahwa kita yang sedang diusung.


26) Hati-hatilah menjadi orang yang mengatakan bahwa Allah menjamin rezeki kita sedang hatinya tidak tenteram kecuali sesuatu yang ia kumpul-kumpulkan. Dan menyatakan sesungguhnya akhirat itu lebih baik dari dunia, sedang kita tetap mengumpul-ngumpulkan harta dan tidak menginfakkannya sedikit pun, dan mengatakan bahwa kita pasti mati padahal dia tidak pernah ingat mati.


27) Lihatlah dunia dengan pandangan I’tibar (pelajaran) bukan dengan pandangan mahabbah (kecintaan) kepadanya dan sibuk dengan perhiasannya.


28) Ingatlah bahwa kita sangat tidak kuat menghadapi cubaan dunia. Lantas apakah kita sanggup menghadapi panasnya jahannam?


29) Di antara akhlak wanita mu’minah adalah menasihati sesama mu’minah.


30) Jika kita melihat orang yang lebih besar dari kita, maka muliakanlah dia dan katakana kepadanya, “Anda telah mendahului saya di dalam Islam dan amal soleh maka dia jauh lebih baik di sisi Allah. Anda keluar ke dunia setelah saya, maka dia lebih baik sedikit dosanya dari saya dan dia lebih baik dari saya di sisi Allah.”

#TANdA-tAnDa LeMaHnYa iMaN#


1) Terus menerus melakukan dosa dan tidak merasa bersalah

2) Berhati keras dan tidak berminat untuk membaca Al-Qur'an

3) Berlambat-lambat dalam melakukan kebaikan, seperti terlambat untuk melakukan shalat

4) Meninggalkan sunnah

5) Memiliki suasana hati yang goyah, seperti bosan dalam kebaikan dan sering gelisah

6) Tidak merasakan apapun ketika mendengarkan ayat Al-Qur'an dibacakan, seperti ketika Allah mengingatkan tentang hukumanNya dan janji-janjiNya tentang kabar baik.

7) Kesulitan dalam berdzikir dan mengingat Allah

8) Tidak merasa risau ketika keadaan berjalan bertentangan dengan syari'ah

9) Menginginkan jabatan dan kekayaan

10) Kikir dan bakhil, tidak mau membagi rezeki yang dikaruniakan oleh Allah

11) Memerintahkan orang lain untuk berbuat kebaikan, sementara dirinya sendiri tidak melakukannya

12) Merasa senang ketika urusan orang lain tidak berjalan semestinya

13) Hanya memperhatikan yang halal dan yang haram, dan tidak menghindari yang makruh

14) Mengolok-olok orang yang berbuat kebaikan kecil, seperti membersihkan masjid

15) Tidak mau memperhatikan kondisi kaum muslimin

16) Tidak merasa bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu demi kemajuan Islam

17) Tidak mampu menerima musibah yang menimpanya, seperti menangis dan meratap-ratap di kuburan

18) Suka membantah, hanya untuk berbantah-bantahan, tanpa memiliki bukti

19) Merasa asyik dan sangat tertarik dengan dunia, kehidupn duniawi, seperti merasa resah hanya ketika kehilangan sesuatu materi kebendaan

20) Merasa asyik (ujub) dan terobsesi pada diri sendiri

Hal-hal berikut dapat meningkatkan keimanan kita:

1) Tilawah Al-Qur'an dan mentadabburi maknanya, hening dan dengan suara yang lembut tidak tinggi, maka Insya Allah hati kita akan lembut. Untuk mendapatkan keuntungan yang optimal, yakinkan bahwa Allah sedang berbicara dengan kita.

2) Menyadari keagungan Allah. Segala sesuatu berada dalam kekuasaannya. Banyak hal di sekitar kita yang kita lihat, yang menunjukkan keagunganNya kepada kita. Segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendakNya. Allah maha menjaga dan memperhatikan segala sesuatu, bahkan seekor semut hitam yang bersembunyi di balik batu hitam dalam kepekatan malam sekalipun.

3) Berusaha menambah pengetahuan, setidaknya hal-hal dasar yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti cara berwudlu dengan benar. Mengetahui arti dari nama-nama dan sifat-sifat Allah, orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang berilmu.

4) Menghadiri majelis-majelis dzikir yang mengingat Allah. Malaikat mengelilingi majels-majelis seperti itu.

5) Selalu menambah perbuatan baik. Sebuah perbuatan baik akan mengantarkan kepada perbuatan baik lainnya. Allah akan memudahkan jalan bagi seseorang yang bershadaqah dan juga memudahkan jalan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. Amal-amal kebaikan harus dilakukan secara istiqamah.

6) Merasa takut kepada akhir hayat yang buruk. Mengingat kematian akan mengingatkan kita dari terlena terhadap kesenangan dunia.

7) Mengingat peringkat-peringkat kehidupan akhirat, fase ketika kita diletakkan dalam kubut, fase ketika kita diadili, fase ketika kita dihadapkan pada dua kemungkinan, akan berakhir di syurga, atau neraka.

8) Berdo'a, menyadari bahwa kita membutuhkan Allah. Merasa kecil di hadapan Allah.

9) Cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala harus kita tunjukkan dalam aksi. Kita harus berharap semoga Allah berkenan menerima shalat-shalat kita, dan sentiasa merasa takut akan melakukan kesalahan. Malam hari sebelum tidur, seyogyanya kita bermuhasabah, memperhitungkan perbuatan kita sepanjang hari itu.

10) Menyadari akibat dari berbuat dosa dan pelanggaran. Iman seseorang akan bertambah dengan melakukan kebaikan, dan menurun dengan melakukan perbuatan buruk.

11) Semua yang terjadi adalah karena Allah menghendaki hal itu terjadi. Ketika musibah menimpa kita, itupun dari Allah.

#UnTuK SiApA CINTA iTu??#


Jatuh yang tidak ada orang simpati ialah jatuh cinta. Sebab jatuh cinta indah, tidak macam jatuh tangga atau jatuh pokok, sakit. Cinta banyak perkara cinta. Tidak ada siapa pun yang dapat larikan diri daripada mencintai dan dicintai. Kemuncak cinta, ada orang masuk syurga kerana cinta dan tidak kurang ramai orang yang akan dihumbankan ke neraka gara-gara cinta. Cinta yang begaimana boleh bawa seseorang ke syurga dan kenapa ada yang masuk neraka lantaran kerana cinta? Cinta, rasa yang ada dalam hati yang tidak boleh disukat-sukat. Hati yang merasainya, sehingga boleh terhibur atau terseksa kerananya. Datangnya dari dua sumber yakni dari nafsu dan dari Allah. Cinta yang diilhamkan oleh nafsu berlaku bila hati kotor, sering melakukan dosa dan tidak pula bertaubat. Sifat-sifat keji seperti sombong, ujub, riak, gila puji, hasad dengki dan lain-lain sifat jahat bersarang dalam hati tidak dikikis, maka ketika itu nafsulah yang akan jadi Tuhan dalam diri sehingga apa saja yang dilakukan mengikut arahan nafsu. Termasuk dalam meletakkan cinta, ukuran yang diberi dan sebab jatuh cinta pun ikut selera nafsu. Lelaki akan jatuh cinta pada perempuan yang mendedahkan kecantikannya hingga tubuh badan perempuan itu sudah tidak terlindung lagi pada pandangan nafsunya.. Begitu juga wanita, jatuh cinta sebab lelaki kaya, handsome bergaya, ada jawatan dan lain-lain keistimewaan yang disenangi oleh nafsu. Lantas cinta diberi dengan harapan mereka dapat tumpang kemewahan dan kesenangan hidup lelaki tersebut. Jelasnya, cinta yang datang dari nafsu ditujukan untuk kesenangan nafsu semata-mata. Bila bertaut dua cinta yang dilahirkan oleh nafsu yang punya kepentingan masing-masing maka berlangsunglah babak-babak melahirkan rasa cinta. Dari surat menyurat, telefon, ziarah, keluar makan-makan, berdua-duaan di taman bunga, dalam keadaan saling rindu merindukan. Ketika itu tak ada lain dalam ingatan melainkan orang yang dicintai. Sehari tak jumpa atau tidak telefon rasa berpisah setahun. Sudah tidak malu pada orang sekeliling, apa lagi pada Allah yang Maha Melihat. Lagi mereka tidak ingat dan takut. Lantaran itu mereka sanggup buat apa saja untuk membuktikan kecintaan pada pasangan masing-masing. Hatta yang perempuan sanggup serah maruah diri konon untuk buktikan cinta pada lelaki. Yang lelaki pula rela bergolok bergadai untuk memberikan kemewahan pada perempuan sebagai bukti cinta. Akhirnya bila yang perempuan telah berbadan dua, lelaki serta merta hilang cintanya. Habis manis sepah dibuang. Kalau pada lelaki pula, ada duit abang sayang, tak ada duit abang melayang. Kalau pada suami pula, isteri seorang suami disayang, bila hidup bermadu kasih pada suami melayang. Itulah falsafah cinta nafsu yang melulu. Cintanya hanya selagi nafsu ada kepentingan. Cinta inilah yang banyak melanda orang muda yang dilambung asmara. Hingga sanggup buat apa saja, sekalipun bunuh diri, kalau kecewa dalam bercinta. Walhal sedap dan indahnya sekejap. Sakitnya lama, sakit yang paling dah syatialah di neraka kelak. Inilah kemuncak cinta yang paling malang dan memalukan. Cinta nafsu kalau pun boleh bersambung sampai membina rumahtangga ia tetap akan menyeksa. Kerana suami akan cinta pada isteri selagi isteri masih muda, seksi dan manja. Yakni selagi nafsu dapat disenangkan. Bila isteri tua, kulit berkedut, tampal make-up lagi hodoh, rambut putih dan gigi pun sudah banyak gugur seperti opah, badan pun sudah kendur, maka cinta suami akan beralih pada gadis muda yang menarik. Sekaligus hilanglah cinta suami. Menderitalah isteri yang hilang perhatian suami apalagi kalau terang-terang depan mata suami kepit perempuan lain, lagilah isteri terseksa. Begitu juga si isteri. Cintakan suami selagi suami boleh membahagiakan dan menunaikan segala keinginan nafsu. Selagi suami kasih dan sayang padanya. Andainya suami hilang kuasa, jatuh miskin, masuk penjara atau suami kahwin lagi seorang maka serta merta hilang cinta pada suami. Sebaliknya berbakul-bakul datang rasa benci pada suami yang dulu dipuja tinggi melangit. Begitu mudah cinta bertukar jadi benci. Akibatnya berlakulah pergaduhan, masam muka, kata-mengata, ungkit mengungkit, suami tidak pedulikan isteri dan isteri pun hilang hormat pada suami. Rumahtangga panas dan menunggu saat untuk ditalqin kan ke kubur perceraian. Ketika itu tak ada lagi pujuk rayu, cumbu mesra sebagaimana waktu cinta tengah membara. Maka doktor yang menulis pun dituduh. Itulah gara-gara cinta nafsu yang sudah menyusahkan manusia di dunia lagi. Sebaliknya cinta yang dialirkan oleh Allah ke dalam hati, itulah cinta yang benar, suci lagi murni. Cinta yang bukan diukur ikut pandangan mata, tapi ikut pandangan Allah. Ia bersebab kerana Allah dan cinta diberi pun untuk dapat keredhaan Allah. Cinta begini tiada batasannya. Tidak pula kenal jantina dan kedudukan. Dan cinta lahir hasil dari sama-sama cinta pada Allah. Boleh berlaku pada lelaki dengan lelaki, perempuan dengan perempuan, lelaki dengan perempuan, antara murid dengan guru, suami dengan isteri, sahabat dengan sahabat, rakyat dengan pemimpin, antara umat dengan Nabinya dan yang paling tinggi antara hamba dengan Tuhannya. Kalau berlaku antara lelaki dengan perempuan yang tidak diikat oleh tali perkahwinan, mereka tak akan memerlukan untuk berjumpa, bercakap atau melakukan apa saja yang bertentangan dengan kemahuan Allah. Cinta mereka tidak akan dicelahi oleh nafsu berahi. Sebaliknya cinta itu ialah tautan hati yang berlaku walaupun tak pernah kenal atau baru kenal tapi hati rasa sayang dan rindu. Hati sedih kalau orang yang dicintai ditimpa susah, senang kalau yang dicinta itu senang. Sanggup susah-susahkan dan korbankan diriuntuk senangkan orang yang dicintai. Cinta yang begini ada diceritakan dalam hadis, iaitu seorang lelaki yang bertemu dan berpisah dengan sahabatnya kerana Allah maka mereka akan mendapat perlindungan 'arasy Allah di padang mahsyar nanti, hari di mana masing-masing orang mengharap sangat lindungan dari matahari yang sejengkal saja dari kepala. Kalau berlaku antara suami isteri maka isteri akan letak seluruh ketaatan pada suami, berkhidmat dan melayan suami tanpa jemu-jemu. Sama ada waktu suami tunjukkan sayang atau masa suami marah-marah. Sama ada suami kaya atau miskin, atau suami kahwin lagi, cinta isteri pada suami tidak belah bagi. Salah satu contohnya penderitaan mengundang bahagia. Kerana cintanya pada suami datangnya dari Allah hasil dari ketaqwaan isteri. Datanglah ribut taufan, angin puting beliung melanda rumah tangga, isteri tetap memberikan cintanya yang utuh dan teguh. Begitu juga suami, cinta pada isteri tidak kira isteri itu muda atau tua. Sama ada pada hatinya. Selagi isteri taat pada Allah, isteri tetap dikasihinya. Kalau dia ada empat isteri, tentulah isteri-isteri akan tertanya-tanya, pada isteri manakah yang suami paling cinta? Kalau cinta itu bersumber dari Allah, tentu isteri yang paling taqwalah yang paling layak dicintai oleh suami lebih dari isteri-isteri lain. Sebagaimana Rasulullah lebih mencintai Aisyah kerana taqwa Aisyah lebih tinggi dari istei-isteri lain. Rasulullah saw akui sendiri hanya bersama Aisyah saja, dalam satu selimut baginda pernah diberi wahyu. Tapi tidak pernah berlaku semasa baginda satu selimut dengan isteri-isteri yang lain. Sumber cinta yang datang dari Allah akan meletakkan Allah yang paling tinggi dan utama. Bila berlaku pertembungan antara cinta Allah dengan cinta pada makhluk maka cinta Allah dimenangkan. Misalnya seorang isteri yang cinta suaminya. Tiba-tiba suami larang isteri melakukan ketaatan pada Allah dalam hal tutup aurat, walhal tutup aurat itu Allah tuntut. Maka kecintaan pada Allah itu akan mendorongnya untuk laksanakan perintah-Nya walaupun suami tidak suka ataupun terpaksa kehilangan suami. Sanggup dilakukan sebagai pengorbanan cintanya pada Allah. Sebaliknya kalau dia turut kemahuan suami ertinya kata cinta pada Allah hanya pura-pura, cintanya bukan lagi bersumberkan Allah tapi datang dari nafsu. Cinta yang datang dari Allah menyebabkan seseorang cukup takut untuk melanggar perintah Allah yang kecil, apalagi yang besar, lagi dia gerun. Seorang yang sudah dapat mencintai Allah, cinta yang lain-lain jadi kecildan rendah padanya. Sejarah menceritakan kisah cinta Zulaikha terhadap Nabi Yusuf. Sewaktu Zulaikha dibelenggu oleh cinta nafsu yang berkobar-kobar pada Nabi Yusuf, dia sanggup hendak menduakan suaminya, seorang menteri. Bila Nabi Yusuf menolak keinginannya, ditariknya baju Nabi Yusuf hingga terkoyak. Akibat dari peristiwa itu Nabi Yusuf masuk penjara. Tinggallah Zulaikha memendam rindu cintanya kepada Yusuf. Penderitaan cinta yang ditanggung oleh Zulaikha menyebabkan dia bertukar dari seorang perempuan cantik menjadi perempuan tua yang hodoh. Matanya buta kerana banyak menangis terkenangkan Yusuf, hartanya habis dibahagi-bahagikan kerana Yusuf. Sehingga datanglah belas kasihan dari Allah terhadapnya. Lalu Allah mewahyukan agar Nabi Yusuf mengahwini Zulaikha setelah Allah kembalikan penglihatan, kemudaan dan kecantikannya seperti di zaman gadisnya. Peliknya, bila Zulaikha mengenal Allah, datanglah cintanya pada Allah sehingga masanya dihabiskan untuk bermunajat dengan Allah dalam sembahyang dan zikir wirid sehingga terlupa dia hendak melayan kemahuan suaminya Yusuf yang berhajat kepadanya. Terpaksa Nabi Yusuf menunggu Zulaikha menghabiskan sembahyangnya, hingga hampir hilang kesabaran Nabi Yusuf lantas ditariknya baju Zulaikha sehingga koyak; sebagaimana Zulaikha pernah menarik baju Nabi Yusuf seketika dulu. Begitulah betapa cinta yang dulunya datang dari nafsu dapat dipadamkan bila dia kenal dan cinta pada Allah. Cinta Allah ialah taraf cinta yang tinggi. Kemuncak cinta ini ialah pertemuan yang indah dan penuh rindudi syurga yang dipenuhi dengan kenikmatan. Cinta pada Allah akan lahir bagi orang sudah cukup kenal akan Allah. Kerana cinta lahir bersebab. Kalau wanita cinta pada lelaki kerana kayanya, baiknya, tampan dan sebagainya dan lelaki cinta wanita kerana cantik, baik, lemah lembut dan sebagainya maka bagimereka yang berakal akan rasa lebih patut dicurahkan rasa cinta pada Allah kerana segala kenikmatan itu datangnya dari Allah. Ibu bapa, suami, isteri, sahabat handai dan siapa sajayang mengasihi dan mencintai kita, hakikatnya itu semuanya datang dari Allah. Kebaikan, kemewahan dan kecintaan yang diberikan itupun atas rahmat dan kasihan belas Allah pada kita. Sehingga Allah izinkan makhluknya yang lainnya cinta pada kita. Walhal Allah boleh bila-bila masa menarik balik rasa itu dari hati orang-orang tadi kalau Allah mahu. Allah yang menciptakan kita makhluk-Nya, kemudian diberinya kita berbagai-bagai nikmat seperti sihat, gembira, dan macam-macam lagi. Sama ada masa kita ingat pada-Nya ataupun masa kita lalai, tetap diberi-Nya nikmat-nikmat itu. Begitulah, kebaikan Allah pada kita terlalu banyak sebagaimana firman-Nya: yang bermaksud: "Kalau kamu hendak menghitung nikmat-nikmat Allah, nescaya kamu tak terhitung." Besar sungguh jasa Allah dari menciptakan, menghidupkan dan memberi rezeki, suami, isteri, rumah dan macam-macam lagi yang dengannya kita boleh lalui kehidupan dengan aman bahagia. Alangkah biadapnya kita kalau segala pemberian Allah itu kita ambil tapi lupa untuk ucapkan terima kasih, lupa pada yang memberi. Walhal, Allah boleh saja menyusah dan menyenangkan kita dengan kehendaknya. Oleh itu orang yang betul kenal dan beradab, dia malu pada Allah. Malah kerana malunya itu dia tidak nampak yang lain lebih hebat dari Allah. Cintanya tertumpu pada Allah, dan penyerahan diri pada Allah sungguh-sungguh. Setiap saat menanggung rindu lalu masanya dihabiskan untuk berbisik-bisik dengan kekasihnya. Sehingga kerana terlalu mendalam cinta pada Tuhan ada hamba Allah yang berkata, "Wahai Tuhan, aku mencintai Engkau bukan kerana takutkan neraka-Mu. Tapi kerana Zat-Mu, ya Allah. Aku rela masuk neraka kalau itulah kemahuan-Mu." Itulah rintihan hati seorang wali perempuan Rabiatul Adawiyah dalam munajatnya dengan Allah. Dia menyatakan dua cinta tidak boleh duduk dalam satu hati. Bila cinta Allah sudah penuh dalam hatinya, maka tidak ada tempat lagi untuk cinta selain dari itu. Ada orang mangatakan: "Jika kau berikan hatimu atau pun cintamu pada manusia nescaya dia akan merobek-robekkannya. Tapi kalau hati yang pecah itu diberikan kepada Allah nescaya dicantum-cantumkan-Nya. Ertinya cinta dengan Allah pasti berbalas. Dan Allah tidak membiarkan orang yang dicintai-Nya menderita di akhirat." Jadi seorang yang bijak dan beradab akan meletakkan kecintaan yang besar pada Allah, pada Rasulullah dan barulah pada makhluk-makhluk lain di samping-Nya. Itulah perletakan cinta yang betul dan menguntungkan di dunia dan juga di akhirat. Itulah dia cinta kita pada Allah swt yang patut kita letakkan.

#70 DoSa BeSaR#


  1. Mensyirikkan Allah dengan sesuatu yang lain.

  2. Membunuh orang yang tidak berhak dibunuh.

  3. Melakukan sihir.

  4. Meninggalkan sembahyang lima waktu.

  5. Tidak memberi zakat.

  6. Tidak berpuasa Ramadhan tanpa uzur syarei.

  7. Tidak mengerjakan haji sedangkan ianya berkemampuan.

  8. Menderhakai kedua ibu-bapa.

  9. Memutuskan hubungan kekeluargaan.

  10. Melakukan zina.

  11. Melakukan liwat.

  12. Melakukan amalan riba

  13. Makan harta anak yatim

  14. Melakukan sesuatu pendustaan terhadap Allah dan RasulNya.

  15. Lari dari perang sabil (Fisabilillah).

  16. Penipuan dan kezaliman pemimpin terhadap rakyat.

  17. Angkuh-sombong dan kagumkan diri sendiri.

  18. Bersaksi palsu.

  19. Minum arak.

  20. Judi.

  21. Menuduh seseorang mukmin melakukan zina.

  22. Menipu harta ghanimah.

  23. Mencuri.

  24. Merompak.

  25. Sumpah palsu.

  26. Melakukan kezaliman.

  27. Penyalahgunaan kuasa dalam memberi hak.

  28. Memakan dan mengambil yang haram.

  29. Membunuh diri.

  30. Berdusta.

  31. Qadhi yang zalim di dalam urusan kehakiman.

  32. Memberi rasuah di dalam masalah kehakiman.

  33. Menyerupai lelaki bagi wanita, menyerupai wanita bagi lelaki.

  34. Dayus.

  35. Melakukan cina buta.

  36. Tidak beristibrar semasa kencing (kencing tidak basuh)

  37. Riak (melakukan sesuatu amalan yang lain dari Allah).

  38. Belajar kerana dunia dan menyembunyikan ilmu.

  39. Melakukan pengkhianatan.

  40. Mengadu domba/mengencam.

  41. Membohongi Qadha dan Qadhar.

  42. Sum'ah (mencari nama).

  43. Menyebut-nyebut kebajikan yang dilakukan.

  44. Melaknat (mengutuk).

  45. Menipu dan tidak menepatu janji.

  46. Membenarkan tukang nujum (tukang tilik).

  47. Derhaka kepada suami.

  48. Membuat gambar hidup.

  49. Memukul-mukul muka dan menangis dengan suara lantang di atas kematian orang/mereka yang dikasihi.

  50. Malampau di dalam melakukan kejahatan.

  51. Melamakan tanggung beban di atas yang lemah, hamba isteri atau binatang dan pergunakan mereka.

  52. Menyakiti jiran.

  53. Menyakiti orang-orang Islam dan memaki hamun mereka.

  54. Menyakiti orang yang beribadah kepada Allah.

  55. Melabuhkan pakaian sampai ke bawah buku lali kerana sombong.

  56. Menyakiti orang beriman kepada Allah.

  57. Lari seorang hambadari tuannya.

  58. Sembelih kerana yang lain dari Allah.

  59. Mengaku ayah yang bukan ayahnya dan mengaku anak yang bukan anaknya sedangkan ia mengetahuinya.

  60. Berdialog secara bertengkar dan mendedahkan keaiban lawannya.

  61. Tidak memberi lebihan air kepada yang memerlukannya.

  62. Mengurangkan timbangan dan sukatan.

  63. Merasa aman/selamat dari dari azab Allah.

  64. Menyakiti Aulia Allah.

  65. Menyeleweng wasiat.

  66. Meninggal Jumaat dan sembahyang sendiri tanpa sebarang uzur.

  67. Meniggalkan sembahyang Jumaat tanpa uzur.

  68. Merancang sesuatu yang hajat.

  69. Mengintip orang-orang Islam dan mendedahkannya.

  70. Mencaci sahabat-sahabat Rasullulah dan para ulama.

#bEnTeNg hArUnGI CAbaraN(N3 aidiladha)#


Pengajaran terpenting Aidiladha ialah memperingatkan diri kita mengenai pengorbanan, seorang ayah dan anaknya dalam melaksanakan perintah Allah.

Peristiwa Nabi Ibrahim diuji dengan perintah supaya menyembelih anak kesayangannya, Nabi Ismail, disebut dalam surah As-Saffat, ayat 102 hingga 109:

“Maka tatkala anaknya itu sampai (ke peringkat umur yang membolehkan dia) berusaha bersama-sama, dengannya, Nabi Ibrahim berkata: “Wahai anak kesayanganku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahawa aku akan menyembelihmu; maka fikirkanlah apa pendapatmu?” Anaknya menjawab: “Wahai ayah, jalankanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah, ayah akan mendapati aku dari orang yang sabar.” Maka apabila keduanya berserah bulat-bulat (menjunjung perintah Allah itu), dan Nabi Ibrahim merebahkan anaknya dengan meletakkan mukanya di atas tompok tanah (untuk disembelih), ketika itu Kami (Allah) menyerunya: “Wahai Ibrahim! Engkau telah menyempurnakan maksud mimpi yang engkau lihat itu” – Demikianlah sebenarnya Kami membalas orang yang berusaha mengerjakan kebaikan. Sesungguhnya perintah ini adalah satu ujian yang nyata; dan Kami tebus anaknya itu dengan seekor binatang sembelihan yang besar. Dan Kami kekalkan baginya (nama yang harum) dalam kalangan orang-orang yang datang kemudian. Salam sejahtera kepada Nabi Ibrahim,”.

Pengertian ayat diatas menyingkap keimanan tinggi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam melaksanakan segala perintah Allah, walaupun ia hanya satu ujian.

Pengorbanan dan kesabaran seperti ini yang sepatutnya diterapkan dalam jiwa kita supaya kita berjaya mengharungi segala ujian dan cabaran dalam kehidupan dunia ini, dalam kita melaksanakan segala perintah Allah.

Lihat saja bagaimana ibadat haji meminta kita menunjukkan kesungguhan, ketabahan, kesabaran dan pengorbanan yang tinggi. Sifat mulia ini sudah sewajarnya kita tunjukkan dalam semua jenis amal perbuatan kita. Ingatlah bahawa ganjaran yang sebenarnya bukan datang daripada makhluk dan manusia lain. Ganjaran sebenarnya adalah dari Allah semata-mata.

Apakah dia nilai pengorbanan?

Apakah sifat murni yang dapat kita semai dalam melakukan pengorbanan? Untuk menjawab persoalan ini, marilah kita renungkan akan peristiwa korban Nabi Ibrahim serta puteranya Nabi Ismail yang diabadikan Allah di dalam surah As-Saffat: 102-109. Begitulah pengorbanan yang ditunjukkan Nabi Ibrahim dan juga puteranya Nabi Ismail. Di mana kedua-duanya membuat satu pengorbanan yang besar dalam kehidupan.

Jika kita lihat akan pengorbanan Nabi Ibrahim, beliau sanggup untuk mengorbankan anak kesayangannya kerana Allah. Begitu juga dengan puteranya Nabi Ismail, beliau pula sanggup mengorbankan nyawanya bagi mendapat keredaan Allah.

Lihatlah nilai yang tersemai dalam jiwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

  • Pertama, kedua-duanya dengan keteguhan iman dan takwa berkeyakinan penuh akan ketetapan Allah dan tidak berganjak sedikitpun dalam menjalankan perintah-Nya.
  • Kedua, nilai kesabaran. Nabi Ibrahim dan Ismail amat sabar dalam mengharungi cabaran dihadapi serta tabah dalam menunaikan tanggungjawab. Sanggup berkorban inilah nilai dikehendaki setiap Muslim dalam membangunkan diri untuk menuju ke arah masyarakat cemerlang. Nilai ini amat penting dan perlu disemai dalam diri kita, keluarga serta masyarakat.

Marilah kita lihat akan kepentingan nilai pengorbanan ini supaya kita sama-sama menghayatinya dalam kehidupan seharian. Nilai iman dan keyakinan penuh akan ketetapan Allah bermaksud reda akan ketetapan dan takdir Allah.

Kita sebagai seorang yang beriman perlu percaya akan semua ketetapan ditetapkan Allah. Seorang hamba mestilah sentiasa menerima akan bahagian rezeki yang Allah kurniakan. Inilah sebenarnya kekuatan yang ada pada seorang yang beriman di mana dengan kekuatan iman pada Allah dan prinsip yang teguh dalam dirinya, dia akan menjadi seorang yang mampu untuk berkorban atas dasar mendapat keredaan Allah.

Seorang bapa dengan penuh keimanan akan berkorban sedaya upaya berusaha dalam mencari nafkah bagi keluarganya dan membangunkan mereka dengan kepercayaan dan keyakinan bahawa apa saja usaha dilakukan adalah untuk mendapat keredaan Allah dan dengan usahanya keluarga yang dibangunkan menjadi sebuah keluarga Islam yang boleh menjadi tunjang kekuatan masyarakat.

Begitu juga seorang ibu pastinya dengan keimanan yang teguh akan mendidik anak-anaknya dengan prinsip agama dan sentiasa berdoa kepada Allah agar menjadikan anak-anak itu orang berguna untuk agama, masyarakat dan negara.

Inilah pengorbanan yang sering kita lakukan. Pengorbanan ini akan lebih bermakna apabila tersemat di dalam hati bahawa setiap pengorbanan yang dilakukan hanya untuk mendapatkan keredaan Allah.

Sabar pula adalah satu lagi nilai yang besar dalam kita membuat pengorbanan mengharungi hidup yang berbagai cubaan dan rintangan. Inilah nilai yang dipancarkan oleh Nabi Ismail apabila ketika ditanya oleh Ibrahim akan perintah Allah untuk menjadikan beliau sebagai korban.

Lantas Nabi Ismail menjawab: Wahai ayah! Jalankanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah, ayah akan mendapati aku dari orang yang sabar. (As Saffat: 102)

Pengorbanan yang kita lakukan dalam kehidupan ini hendaklah kita tempuh segala cabarannya dengan kesabaran. Kita mengorbankan masa, tenaga, wang dan akal fikiran, semua ini memerlukan kesabaran, dengan pengorbanan inilah terhasil pelbagai kenikmatan dari Allah.

Sunday, November 22, 2009

#1o PeSaNAN IMAM SYAFIE#


Sebelum Imam Shafie wafat, beliau sempat berpesan kepada muridnya serta umat islam umumnya. berikut adalah kandungan wasiat tersebut: ” Barangsiapa yg ingin meninggalkan dunia dlm keadaan selamat maka hendaklah ia mengamalkan 10 perkara:

  • Hak kpd diri: mengurangkan tidur, mengurangkan makan, percakapan dan berpada-pada dgn rezeki yd ada.

  • Hak kpd malaikat maut: mengqadakan kewajipan2 yg tertinggal,mendapatkan kemaafan dr org yg dzalimi, membuat persediaan utk mati dan merasa cinta kpd ALLAH

  • Hak kpd kubur: membuang tabiat suka mneabur fitnah, tabiat kencing merata-rata, memperbanyakkan solat tahajjud dan membantu org yg dizalimi.

  • Hak kpd Munkar dan Nakir : tidak berdusta, berkata benar, meninggalkan maksiat dan nasihat menasihati.

  • Hak kpd mizan(neraca timbangan amalan pada hari kiamat): menahan kemarahan, byk berzikir, mengikhlaskan amaln dan sanggup menahan kesulitan.

  • Hak kpd sirat(titian yg merintangi neraka pada hari kiamat): mmbuang tabiat suka mengumpat, warak, suka membantu orang beriman dan suka berjamaah.

  • Hak kpd Malik(malaikat penjaga neraka): menangis lantaran takutkan ALLAH s.w.t, berbuat baik kpd ibu bapa, bersedekah ketika terang-terangan serta sembunyi dan memperelokkan akhlak.

  • Hak kpd Ridhzuan(malaiakt penjaga syurga): merasa redha kpd qadha’ ALLAH, bersabar menerima bala, bersyukur ke atas nikmat ALLAH dan bertaubat dr melakukan maksiat.

  • Hak kpd Nabi MUhd SAW: berselawat ke atasnya, berpegang dgn syariat, bergantung kpd al sunnah (hadith), menyayangi para sahabat dan bersaing dlm mencari kelebihan dari ALLAH.

  • Hak kpd ALLAH s.w.t: mengajak manusia ke arah kebaikan, mencegah dari kemungkaran, menyukai ketaatan dan membenci kemaksiatan.

#MiMpI TeRdiRi 3 JeNiS#


1) Mimpi dari Allah SWT iaitu mimpi yang baik untuk dunia dan akhirat merupakan khabar gembira atau suatu peringatan daripada Allah SWT supaya tidak melakukan maksiat terhadapNya.

2) Mimpi daripada syaitan iaitu mimpi buruk yang tidak menyenangkan seperti kedatangan malapetaka, musibah, permusuhan, kesedihan, kesengsaraan, kemelaratan, penderitaan dan sebagainya.

3) Mimpi yang dipengaruhi oleh keadaan diri seseorang itu sendiri umpamanya bermimpi makan ketika keadaan diri sedang lapar atau ketika dalam keadaan kenyang bermimpi termuntah atau salah satu anggota tubuh sedang sakit dan bermimpi dianiaya orang dan sebagainya. Mimpi seperti ini tidak mempunyai erti sama sekali.

Sabda Rasulullah SAW “mimpi itu ada 3, mimpi dari Allah SWT ( mimpi yang baik ), mimpi daripada syaitan (mimpi buruk) dan mimpi daripada dirinya yang kerana terjadi sesuatu kemudian dia bermimpi”

#BeZa AdAt DaN iBaDaT#

Adat

Duduk rehat didalam masjid

Makan hanya sekadar makan

Berkahwin untuk menamatkan zaman bujang

Bertudung kerana ingin kelihatan cantik dan ala-ala artis

Bermake up supaya muka kelihatan cantik tiruan

Ibadat

Iktikaf didalam masjid

Makan supaya badan kuat untuk beribadat

Berkahwin kerana sunnah&menjauhi maksiat

Bertudung lantaran akur dengan perintah Allah

Berwudhuk sudah mampu mempamerkan cahaya&kecantikan asli pada wajah

#AsAl 4 BuAh SuNgai Di SyuRgA#


Bersabda Rasulullah : “ Semasa aku israk dan naik ke langit yang tinggi, malaikat Jibril telah member kesempatan kepada aku untuk melihat ke dalam semua Syurga Allah. Aku lihat didalamnya terdapat 4 buah sungai yang besar-besar dan airnya bermacam-macam. Ada air susu, air madu, air arak dan air yang tidak masin”.

Aku bertanya kepada Jibril : “Wahai Jibril, dari manakah asalnya sungai-sungai ini dan ke manakah akhirnya? Jibril menjawab “Wahai Rasulullah, aku hanya tahu ia mengalir ke dalam Telaga al-Kausar sahaja dan aku tidak mengetahui dari mana asalnya”

Aku pun memohon petunjuk Allah dan muncullah seorang malaikat dengan member salam. Setelah aku menjawab salamnya, dia menyuruh aku memejamkan mataku. Lalu aku memejamkan mata. Apabila aku membuka mata, aku berada dekat sepohon pokok yang besar dibuat daripada permata yang putih berkilauan manakala pintu-pintunya daripada yakut hijau dan kunci-kuncinya daripada emas.

Aku melihat empat batang sungai sedang mengalir dari bawahnya. Aku mahu kembali tetapi ditahan oleh malaikat dengan bertanya, “Tidakkah engkau ingin melihat didalamnya?” Aku pun bertanya “Bagaimana aku dapat masuk sedangkan pintunya berkunci?Dimanakah kuncinya?”

Jawab malaikat itu, “Kunci didalam tanganmu”. Tanyaku lagi “Dimana?. Jawabnya “ Cukup engkau membaca Bismillahirahmanirrahim”.

Lalu aku pun ucapkan dan pintu terbuka dengan sendirinya dan aku pun masuk ke dalam. Sungguh hebat ciptaan Allah, sungai-sungai itu memancutkan airnya dari empat buah tiang yang besar.

Melihat aku mahu keluar, malaikat bertanya lagi kepadaku “Apakah engkau sudah cukup puas melihat pemandangan ini? Sesungguhnya masih ada yang engkau belum lihat. Cubalah engkau perhatikan sekali lagi dengan baik-baik, dari apakah sungai-sungai itu memancutkan airnya.

Lalu aku pun perhatikan sekali lagi. Alu lihat terdapat kalimah Bismillahirahmanirrahim di antara empat batang tiangnya. Dari huruf mim perkataan Bismillah, keluar air sungai tawar. Dari lubang ha’ perkataan Allah, keluar air sungai susu. Dari lubang huruf mim perkataan ar-rahman, keluar air sungai arak. Dan dari lubang mim dari perkataan ar-rahim, keluar air sungai madu. Dari itu, barang siapa dari umatku membaca Bismillahirahmanirrahim, pasti akan dapat minum air sungai ini di akhirat kelak.

#BiNgKai KeHiDuPaN#


Mengarungi samudra kehidupan,
Kita ibarat para pengembara
Hidup ini adalah perjuangan,
Tiada masa tuk berpangku tangan

Setiap titis peluh dan darah,

Tak akan sirna ditelan masa

Segores luka di jalan Allah

Kan menjadi saksi pengorbanan
Allohu ghoyatuna
Ar Rosulu qudwatuna

Al Qur’anu dusturuna

Al Jihadu sabiluna

Al Mautu fi sabilillah,
asma amanina

Allah adalah tujuan kami,
Rasulullah teladan kami
Alqur’an pedoman hidup kami,
Jihad adalah jalan juang kami

Mati di jalan Allah adalah,

Cita-cita kami tertinggi

#KeHiDuPaN#


Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu sukar dan menyakitkan baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah kalah dalam kehdupan. Ia sudah letih untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru. Ayahnya, seorang tukang masak, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 periuk dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di ketigatiga periuk2 tersebut mendidih. Ia menaruh lobak merah di dalam periuk pertama, telur diperiuk kedua dan ia menaruh serbuk kopi di periuk terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak tertanya-tanya dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan oleh ayahnya. Setelah 20 minit, si ayah mematikan api. Ia menyisihkan lobak dan menaruhnya dimangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya. Lalu ia bertanya kepada anaknya, "Apa yang kau lihat, nak?" "Lobak, telur, dan kopi" jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekati mangkuk dan memintanya merasakan lobak itu. Ia melakukannya dan merasakan bahawa lobak itu terasa enak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, "Apa erti semua ini, Ayah?" Ayahnya menerangkan bahawa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masingmasing menunjukkan reaksi yang berbeda. Lobak sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, lobak menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkerang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Serbuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, serbuk kopi merubah air tersebut. "Kamu termasuk yang mana?," tanya ayahnya. "Air panas yang mendidih itu umpama kesukaran dan dugaan yang bakal kamu lalui...Ketika kesukaran dan kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu lobak, telur atau kopi?" Untuk renungan bersama......... Bagaimana dengan anda? Apakah anda adalah lobak yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lembut dan kehilangan kekuatanmu. Atau... Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut, dengan jiwa yang dinamis? Namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau kegagalan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?

#KiSaH CiNtA#


Kisah cintaku Suatu pagi aku terbangun dan berpeluang melihat mentari terbit. Aaah.. kecantikan alam ciptaan Allah memaang tiada tolok bandingnya. Sedang aku memerhati, aku puji Tuhan atas segala keindahan yang telah Ia sajikan ity.aku duduk dan terasa kehadiranNya di sisiku. Dia bertanya kepadaku, “Adakah kamu mencintai Aku?” Aku menjawab, “Sudah tentu! Engkaulah Penciptaku, masakan aku tidak mencintaiMu.” Kemudian Dia bertanya lagi, “Jika kamu ditakdirkan cacat anggota, adakah kamu akan mencitaiKu?” Akun tergamam seketika. Aku lihat tangan, kaki dan seluruh anggotaku; aku teringat pelbagai kerja yang mustahil aku lakukan tanpa anggotaku ini yang selama ini tidak kusedari kepentingannya. Kemudian aku jawab, “Tentunya ia amat sukar bagiku, tetapi aku akan tetap mencintaiMu.” Kemudian Dia bertanya lagi, “Jika kamu ditakdirkan buta, adakah kamu akan menyayangi segala ciptaanKu?” Bagaimana mungkin bagiku untuk mencintai sesuatu yang di dunia ini yang tak mampu aku lihat? Kemudian aku berfikir...ramai orang yang ditakdirkan buta di dunia ini, dan mereka masih mencintai Allah dan segala ciptaanNya. Lantas aku menjawab, “Amat sukar bagiku membayangkan keadaanku yang sedemikina rupa, namun begitu aku akan tetap menyintaimu Ya Allah.” Dia bertanya lagi, “Jika kamu ditakdirkan pekak, adakah kamu akan tetap mendengar kepada kata-kataKu?” Bagaimana mungkin bagiku mendengar jika aku pekak? Kemudian aku tersedar bahawa mendengar itu tidak semestinya menggunakan telinga; tetapi menggunakan hati. Aku jawab, “Walaupun takdir itu amat berat bagiku, namun aku akan tetap menyintaiMu.” Dia menyambung lagi persoalanNya, “Jika kamu ditakdirkan bisu adakah kamu akan terus memujiKu?” Aku tertanya lagi, bagaimana aku boleh memuji tanpa suara? Aku terfikir kemudian yang Allah mahu kita memujiNya dari dalam hati dan jiwa kita; tidak penting bagaimanakah bunyinya. Kemudian aku menjawab, “Sungguhpun aku tidak mampu untuk mambunyikan pujian bagiMu, aku akan tetap memujiMu.” Dan... Dia terus betanya lagi, “Adakah kamu benar-benar menyintaiKu?” dengan nada yang tegas dan penuh keberanian. Aku jawab dengan yakin, “Ya, benar Tuhanku, aku menyintaimu kerana Engkaulah satu-satunya Tuhanku dan Tuhan yang sebenar!” Aku fikir jawapanku tadi sudah cukup bagus untuk menjawab soalanNya tadi, tetapi Dia terus bertanyakan lagi, “Kalau begitu kenapa kamu masih melakukan dosa?” Aku jawab, “Kerana aku cuma manusia bisa yang selalu lalai; aku tidak sempurna...aku bukan maksum.” “Kalau begitu, kenapa ketika kamu senang dan gembira...kamu lupakanKu; kamu lari jauh daripadaKu? Dan kenapa ketika kamu susah dan mahukan bantuan...kamu terus ingat kepada Aku; kamu datang dekat dan merayu kepada Aku?” Aku tidak mampu berkata-kata. Yang kusedari...titisan panas turun membasahi pipiku. Dia sambung lagi, “Mengapa kamu buat begini...kadang-kadang sujud menyembahKu, dan kemudian membelakangiKu; tidak pedulikanKu? Mengapa kamu hanya datang mencariKu hanya ketika kamu nengingatiKu? Mengapa kamu meminta kepadaKu sedang kamu tidak setia kepadaKu?” Kurasakan titisan panas mengalir derasmembasahi pipiku tanpa henti. “Mengapa kamu malu kepadaKu? Mengapa kamu tidak mahu menyebarkan suruhanKu? Mengapa ketika kamu dizalimi kamu adukan kepada yang lain sedang Aku sedia mendengar segala rintihanmu? Mengapa kamu sering membuat alasan ketika Aku memberimt peluang untuk berkhidmat di jalanKu?” Ku gagahi bibirku untuk mengucapkan patah-patah perkataan bagi menjawab segala soalan yang bertubi-tubi diajukan kepadaku. Tetapi aku tidak punyai jawapan bagi persoalan-persoalan tadi. Lidahku yang selama ini lancar berkata-kata, kini kelu. Otakku ligat mencari jawapan... atau alasan... namun tiada apa yang kutemui sebagai jawapan. Dia berkata-kata lagi... “Kamu diberikan sebuah kehidupan. Aku jadikan dalam dirimu keistimewaan dan kelebihan berbanding orang lain untuk kamu berjuang di jalanKu, tetapi kamu tetap berpaling dari jalanKu. Aku tunjukkan kepadamu kata-kataKu sebagai panduan kamu dalam hidup ini, tetapi kamu tidak mahu mempelajari atau menghayatinya. Acap kali Aku berkata-kata kepadamu, tetapi kamu berpaling daripada melihatnya. Aku turunkan kepada kamu pesuruhKu, tetapi kamu tidak ambil peduli ketika sunnahnya ditinggalkan. Aku dengar segala permintaan dan rayuanmu kepadaKu... dan semuanya telah Aku perkenankan dengan pelbagai cara.” SambungNya lagi, “Kini... adakah kamu menyintaiKu?” Aku tidak mampu menjawabnya lagi. Bagaimana harus aku jawab persoalan ini/. Dalam tak sedar, aku malu dengan segala apa yang telah aku lakukan selama ini. Aku tidak lagi punya alasan bagi menyelamatkan diriku. Apa yang boleh aku jawab bagi persoalan itu? Ketika hatiku berteriak menangis, dan bercucuran airmata mengalir turun di kedua-dua belah pipiku, aku merintih, “Oh Tuhanku... ampunkanlah segala dosaku. Aku tidak layak menjadi hambaMu Ya Allah...” kemudian Dia menjawab, “Sifatku pengampun...barangsiapa yang memohon keampunan dariKu, nescaya Aku ampunkannya. Dan Aku ampunkan kamu wahai hambaKu.” Aku bertanya kepadaNya, “Mengapa Engkau tetap mengampunkanku sungguhpun aku melakukan kesalahan berulangkali dan memohon ampun berulangkali? Sampai begitu sekalikah cintaMu terhadapku?” Dia menjawab “Kerana kamu adalah ciptaanKu. Aku sekali-kali tidak akan mengabaikanmu. Apabila kamu menangis aku akan bersimpati kepadamu dan mendengar segala rintihanmu. Apabila kamu melonjak kegirangan Aku akan turut gembira dengan kegembiraanmu. Apabila kamu berasa gundah dan kesepian, Aku akan memberikanmu semangat. Apabila kamu jatuh Aku akan membangkitkanmu. Apabila kamu keletihan Aku akan membantumu. Aku akan tetap bersama-samamu hinggalah ke hari yang akhir dan Aku akan menyayangimu selama-lamanya.” Seingat aku... aku tidak pernah menangis sebegini. Aku sendiri tidak mengerti kenapa hatiku ini begitu keras; tidak mampu menangis menyesali segala dosaku selama ini. Dan..buat kali pertamanya dalam hidupku ini... aku benar-benar solat dalam ertikata yang sebenar.

#CiNTA DARi ALLAH#
















Dari mana datangnya cinta
,kalau tak dari
mata turun kehati.
Maka hati juga tempat simpannya rasa cinta.

Allah pernah menyuruh seorang hamba kalangan
nabi mencipta satu barang lalu setelah siap
pembikinan nya Allah suruh pecahkan pula.

Lalu si hamba itu tidak mau memecahkannya
kerana telah bersungguh-sungguh ia mereka
bentuk lalu mau dipecahkan.

Maka Allah nyatakan...begitu juga Allah telah
mencipta bumi dan makhluk ini...apakah Allah
tiada cintakan hasil ciptaan nya.

Sebab itu Allah tanamkan dan ajarkan erti
cinta itu kepada sesama manusia agar kenal
cinta kepada Allah.

#BiLa SePaSaNg MaTa MeNjADi HaDiAh#


ingatkah di kau di mana di dalam sejarah

sepasang mata menjadi hadiah
"kenapa engkau mengikutku?"
"aku tertarik dengan kecantikanmu"
jawapan yang cukup angkuh
namun mengundang 1000 sesalan
bila bungkusan merah diterima
di tangan

Muslimat ,
contohilah wanita itu
bukan dengan mencungkil matamu
tapi dengan menjaga peribadimu

Wahai muslimat ,
aku sering tertanya
bagaimana engkau masih sanggup
memaniskan muka
menghadiahkan senyuman
meramahkan bicara
kepada lelaki yg bukan muhrimmu

Apakah engkau ini berani
menguji jiwa lelaki
yg sememangnya di ciptakan Allah
dahaga kepada keindahan wanita
walaupun sekadar muka yg manis
Apatah lagi lelaki itu
yg engkau tahu cukup ego
menganggap wanita sebagai hidangan
yg boleh di belek belek dan di pilih-pilih

Benar ,
wanita itu telah menemui ajalnya
namun di iringi keredhaan Allah
dan keinsafan seorang lelaki
yg akhirnya menjadi sufi

Muslimat ,
begitulah jalanmu
begitulah perjuanganmu
tundukkanlah pandanganmu
keraskanlah suaramu
seriuskanlah ketegasanmu
bila engkau di hadapan atau di belakang
atau di kiri atau di kanan lelaki

Walau atas apa alasan sekalipun
ketuk keegoan mereka
bangunkanlah mereka dari mimpi
jelaskanlah dengan amalmu
bahawa percampuran bukan caranya
bahawa keseronokan adalah palsu
bahawa di sini tiada kebahagiaan
hanya kebanaran....

Muslimat ,
inilah jalanmu
lalu mungkin
engkau akan melihat
di kalangan remaja ini
akan lahir Rijaluddin
berjiwa pejuang
sebagaimana lahirnya
sebagaimana bangkitnya
Da'ie bernama HASSAN AL-BASRI
BILA SEPASANG MATA MENJADI HADIAH

#SaHABAT#


Siapakah yang dikatakan sahabat?
Adakah perlu dia kaya dan segak,
Apakah perlu dia pandai mengambil hati,
Mestikah dia tidak mementingkan di
ri-sendiri,
Atau,
Sahabat ialah orang yang sekepala dengan sahabatnya,
Satu halatuju dan matlamat yang selari,
Mestikah dia mengetahui kegemaran sahabatnya,
Atau,
Adakah orang yang dapat gembira dan duka bersama,
Membantu bila sahabatnya kesusahan,
Atau,
Seorang sahabat ialah orang yang
Menjaga sahabatnya dari kemurkaan Allah.
Dia menegur apabila sahabatnya lupa,
Pastinya dia orang yang menyayangi sahabatnya
seperti menyayangi dirinya.

Kenapa kita mesti ada sahabat?
1. Sebagai seorang manusia kita tidak dapat hidup
bersendirian, kerana manusi
a dengan sifat kurniaan
Allah itu saling perlu memerlukan. Ibarat nya tidak
diciptakan manusia itu daripada golongan Adam sahaja
tetapi diciptakan juga dari golongan Hawa. Kerana
sudah menjadi fitrah manusia memerlukan teman.
Cumanya, bergantung kepada individu berkenaan
bagaimana ciri sahabat yang diperlukan. Disini kita
sebagai muslim kenalah bijak memilih sahabat.

2.

Sahabat adalah cermin diri kita,
Jika kita bersahabat dengan orang yang jahat,
Maka kita pasti dicerminkan demikian,
Jika kita bersahabat dengan orang yang soleh,
Maka kita juga pasti dicerminkan demikian,
Oleh yang demikan, pilihlah siapa sahabatmu.

3. Islam menganjurkan umatnya supaya memilih sahabat
yang baik (ana tak pasti samada ianya hadis atau
kata-kata ulama'..renunglah;

Pilih sahabat yang baik seumpama,
Jika kita berkawan dengan pelebur besi,
Maka kita pasti mendapat percikan api,
Jika kita berkawan dengan penjual haruman,
Maka kita pasti
sedikit wangian.

Dan pohonlah kepada Allah, supaya Allah mengurniakan
kita sahabat yang boleh membawa kita untuk mendapat
keredaan-Nya.

#WaRKaH BuAT TeManKu#


salam kepada ikhwah akhawat dan adik2... semoga berada dalam keadaan lindungan hidayahnya... Sedikit tazkirah buat antum: Mari lewati lorong waktu, menyusuri jalan-jalan dunia yang penuh tipu daya bersama-sama. Langkahi perjalanan pagi, siang, petang dan malam, yang penuh liku, dengan persahabatan dalam keimanan. Di dunia ini, kita harus saling berpegangan tangan. Kita tak mungkin selamat mengarungi bahtera kehidupan yang sangat luas dengan ancaman badai fitnah ini, seorang diri. Kita tak dapat terlepas dari ancaman fitnahnya dengan hanya mengharapkan kemampuan sendiri. Kerana, kita diciptakan sebagai makhluk yang penuh kelemahan dan mudah terpedaya. “Dan diciptakan manusia itu dalam keadaan lemah.” (An-Nisa : 28) Ikhwah, Akhawat dan adik-adik, Kebersamaan dan persahabatan di jalan Allah lah yang akan mengantarkan kita menyelesaikan hidup dengan kebaikan. Persaudaraan, kebersamaan dan persahabatan di jalan Allah lah yang juga akan mengiringi kita pada kebahagiaan akhirat. Allah SWT memberitakan bahawa hanya persahabatan di atas dasar iman dan takwalah yang akan kekal abadi. “Teman-teman akrab pada hari itu (hari kiamat) sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Az-Zukhruf : 67). Ibnu Kasir mengatakan, “Seluruh persaudaran dan persahabatan yang tidak berlandaskan kerana Allah pada hari kiamat nanti akan berubah menjadi permusuhan.” Begitu juga pesan Rasul SAW dalam haditsnya , yang menyebutkan bahawa kita akan dibangkitkan di hari kiamat bersama-sama orang yang kita cintai. Saudaraku se-Akidahku, Renungilah… Siapa orang yang kita cintai? Siapa orang-orang yang paling dekat dengan kita dalam menyusuri kehidupan ini? Siapa orang yang paling menghiasi ingatan kita? Siapa yang menemani langkah-langkah hidup kita? Orang solehkah dia? Mengajak pada kebaikan dan keredhaan Allah kah dia? Bayangkanlah persahabatan orang beriman di dunia yang kisahnya berlanjut hingga di akhirat, sebagaimana digambarkan oleh Ali bin Abi Talib RA. “Ada dua orang mukmin yang bersahabat dan berteman akrab. Salah seorang dari keduanya meninggal dunia terlebih dahulu dan ia mendapat berita gembira dari syurga. Ketika itu ia teringat akan teman akrabnya yang masih hidup di dunia lalu ia berdo’a : “Ya Allah, sesungguhnya fulan adalah teman akrabku, dia yang menasihatiku berlaku taat kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu. Dia yang mengajakku melakukan kebaikan dan mencegahku dari melakukan kemungkaran. Dia juga yang menyedarkanku akan pertemuan dengan-Mu.. Ya Allah jangan Engkau sesatkan dia sepeninggalku sampai Engkau perlihatkan padanya kenikmatan yang Engku berikan padaku dan sampai Engkau meredhainya sebagaimana Engkau redha kepadaku.” Maka Allah berkata padanya, “Pergilah. Seandainya engkau tahu yang Aku akan berikan kepadanya, niscaya engkau akan banyak tertawa dan sedikit menangis.” Sampai pada waktunya kemudian teman akrabnya itu meninggal dunia dan roh mereka bertemu di Syurga. Allah berkata kepada mereka, “Saling memujilah kalian kepada sahabat kalian.” Maka masing-masing mereka mengatakan, “Dia adalah sebaik-baik teman, sebaik-baik saudara, sebaik-baik sahabat…” Alangkah indahnya!… Pertemuan yang sangat menyanyat hati dan penuh kegembiraan. Mari kita mulai dari sekarang. Bersahabatlah dengan orang-orang yang mendekatkan kita pada redha-Nya… InsyaAllah. sekian
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...